Perpustakaan Bukan Kantor, Jangan Tutup Jam Empat
TulisanDitanam Jul 2026
Pemandangan itu masih membekas di ingatan saya: Minggu pagi di Melbourne, Australia hujan rintik, dan puluhan orang mengantre di depan pintu State Library Victoria sebelum jam buka. Bukan antre konser. Bukan antre promo kopi. Antre masuk perpustakaan.
Sebagai orang Kalimantan Selatan yang sedang menempuh studi di kota itu, saya sempat heran. Di kampung halaman, pemandangan serupa justru saya temukan di tempat lain: kedai kopi. Sore hingga malam di Banjarmasin atau Banjarbaru, cafe-cafe penuh oleh anak muda yang membuka laptop, mengerjakan tugas, atau rapat organisasi. Perpustakaannya? Sudah tutup sejak sore.
Awalnya saya mengira orang Melbourne memang lebih gemar membaca. Setelah tinggal di sana, saya sadar jawabannya lebih sederhana: perpustakaan di sana menang bersaing melawan cafe. Cafe di Melbourne kebanyakan tutup pukul tiga sore dan tidak ada budaya duduk berjam-jam dengan satu pesanan. Sementara perpustakaannya gratis, buka sampai malam, wifi kencang, dan hangat di musim dingin. Warga Melbourne punya "ruang ketiga" ruang selain rumah, sekolah, dan tempat kerja yang disediakan negara, bukan pasar.
Budaya "ngeperpus" ini makin terasa di kampus. Menjelang musim ujian, perpustakaan kampus saya buka 24 jam. Bukan sekadar buka: fasilitasnya justru ditingkatkan mulai dari camilan gratis dibagikan, kursi pijat disediakan, ada beragam kegiatan pelepas penat. Hasilnya, mahasiswa "berperang" memperebutkan kursi; datang terlambat sedikit saja, satu gedung sudah penuh. Perpustakaan diperlakukan bukan sebagai gudang buku yang dijaga, melainkan tuan rumah yang menyambut. Dan mahasiswa membalasnya dengan kehadiran.
Di Banua, situasinya terbalik. Bukan karena kita tidak punya perpustakaan, justru sebaliknya. Perpustakaan Palnam (Pal Enam) milik Pemprov Kalsel kerap menjadi tujuan kaji banding provinsi lain karena fasilitasnya yang baik, dan Kalsel pernah meraih Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat tertinggi di Indonesia dua tahun berturut-turut. Gedungnya ada. Koleksinya ada. Prestasinya pun ada.
Masalahnya satu: jam operasional
Perpustakaan Palnam melayani pengunjung Senin sampai Kamis pukul 09.00 hingga 16.00 Wita. Perpustakaan kampus tak jauh berbeda layanan fisik perpustakaan ULM berakhir pukul empat sore, dan yang paling panjang, Perpustakaan UIN Antasari, tutup pukul enam petang. Bahkan saat musim ujian, saat mahasiswa paling membutuhkannya, jamnya tak berubah. Padahal jam produktif pelajar dan pekerja muda justru dimulai setelah maghrib selepas kuliah, selepas kantor. Di jam-jam itulah satu-satunya ruang yang tersedia adalah cafe, dengan "tiket masuk" tak tertulis berupa segelas minuman puluhan ribu rupiah. Yang mampu membayar mendapat tempat; yang tidak, belajar seadanya di rumah yang mungkin sempit dan riuh.
Ini bukan soal orang Banua malas membaca. Ini soal ruang publik kita menyerah kalah dari ruang komersial, bukan karena kualitas, melainkan karena jam operasional.
Jakarta baru saja membuktikan bahwa ini bisa diubah. Mei 2025, atas arahan Gubernur Pramono Anung, Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin diperpanjang jam layanannya hingga pukul sepuluh malam, setiap hari termasuk akhir pekan. Kritik sang gubernur sederhana tapi mengena: rata-rata perpustakaan tutup jam empat, "sudah seperti ASN yang pulang kantor."
Hasilnya? Selama masa uji coba, jumlah pengunjung melonjak 53 persen. Dan soal biaya, petugas cukup diatur dalam tiga sif, dengan tambahan biaya operasional yang disebut tidak signifikan. Ternyata yang mahal bukan anggarannya, melainkan kemauan mengubah cara pandang: perpustakaan bukan kantor yang tutup sore hari, melainkan ruang publik yang hidup mengikuti ritme warganya.
Kalsel sebenarnya sudah pernah berpikir ke arah sana. Pada 2022, Dispersip Kalsel mewacanakan membuka layanan Perpustakaan Palnam hingga malam hari, bahkan layanan malam pernah ada pada akhir 1980-an. Permintaannya pun nyata: jam layanan akhir pekan Palnam dulu diperpanjang justru karena tingginya kunjungan masyarakat. Wacana sudah ada, permintaan sudah ada, preseden nasional kini juga sudah ada. Yang belum ada tinggal satu: keputusan.
Maka usul saya dua arah. Untuk Pemprov: mulailah dari satu titik yaitu perpustakaan Pal Enam dengan uji coba buka hingga malam di akhir pekan, seperti Jakarta. Untuk kampus-kampus di Kalsel: cobalah sekali saja membuka perpustakaan hingga larut saat musim ujian, dengan zona diskusi, izin membawa tumbler dan kopi, serta colokan yang cukup lalu lihat apakah mahasiswa datang. Saya berani bertaruh mereka akan berebut kursi. Ukur keberhasilan perpustakaan bukan dari jumlah koleksi, melainkan dari jumlah jam yang dihabiskan warga di dalamnya.
Antrean panjang di Melbourne itu bukan antrean menuju rak buku. Itu antrean menuju meja, kursi, wifi, dan ketenangan. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu dibeli. Kalau ruang ternyaman di Banua hanya bisa diakses dengan segelas kopi, maka kesempatan belajar pun ikut berbayar. Padahal ia seharusnya menjadi hak semua orang, termasuk mereka yang uang sakunya habis untuk ongkos di jalan.