Hakiki Space

Pantau PLN

realisasiProjectsDitanam Jul 2026

Status
Live

Masalahnya bukan cuma lampu mati

Aku mau jujur di awal: tulisan ini bukan tulisan yang marah-marah ke PLN. Memelihara jaringan listrik itu pekerjaan yang berat, dan sebagian besar pemadaman memang punya alasan, pemeliharaan, penggantian tiang, perbaikan jaringan. Itu hal yang wajar.

Yang bikin aku frustrasi bukan pemadamannya. Tapi ketidaktahuannya.

Pengumuman pemadaman itu sebenarnya ada. PLN rutin mengeluarkannya. Tapi bentuknya flyer gambar JPEG yang beredar dari Instagram ke status WhatsApp, ke grup RT, lalu ke grup keluarga, sampai akhirnya nyangkut di HP-ku dalam kondisi sudah di-screenshot tiga kali dan buram.

Dan di gambar itu ada daftar panjang nama jalan. Kecil-kecil. Kadang dua kolom. Kadang tiga.

Jadi tiap kali flyer masuk, aku melakukan hal yang sama: zoom, geser, cari nama jalanku satu per satu dengan mata, sambil berharap tidak terlewat. Kalau ketemu, aku catat jamnya di kepala. Kalau tidak ketemu, aku tetap tidak yakin mungkin jalanku ditulis dengan singkatan lain, mungkin masuk kategori "dan sekitarnya".

Itu untuk satu flyer. Untuk satu hari.

Pertanyaan yang tidak bisa kujawab

Yang benar-benar membuatku berhenti dan berpikir adalah waktu aku mencoba menjawab pertanyaan yang kelihatannya sepele:

Berapa kali sebenarnya listrik di daerahku padam bulan ini?

Aku tidak bisa menjawabnya. Bukan karena informasinya rahasia informasinya justru terbuka, dipublikasikan, dibagikan ke mana-mana. Tapi informasinya ada dalam bentuk gambar, dan gambar tidak bisa dijumlahkan.

Gambar tidak bisa di-search. Tidak bisa diurutkan. Tidak bisa difilter per kecamatan. Tidak bisa dibikin grafik. Tidak bisa dipakai untuk menjawab "kelurahan mana yang paling sering kena?" atau "apakah durasi pemadaman bulan ini lebih panjang dari bulan lalu?"

Puluhan flyer sudah beredar, ratusan nama jalan sudah diumumkan, dan semuanya menguap begitu status WhatsApp-nya hilang dalam 24 jam.

Informasi yang tidak bisa direkap itu, pada praktiknya, hampir sama dengan informasi yang tidak ada. Dan informasi yang tidak bisa direkap juga tidak bisa diverifikasi tidak ada cara buat warga biasa memastikan apakah pemadaman benar terjadi sesuai jadwal, lebih cepat, atau justru lebih lama.

Di situ aku sadar: masalahnya bukan kekurangan informasi. Masalahnya adalah format.

Dari flyer ke data

Ide awalnya sederhana banget, dan aku ingat memikirkannya sambil duduk di teras nunggu listrik nyala: bagaimana kalau flyer-nya dibaca mesin?

Model AI sekarang sudah cukup bagus membaca gambar. Kalau aku bisa mengubah satu flyer menjadi baris-baris data yang rapi — tanggal, jam mulai, jam selesai, daftar lokasi, alasan pemadaman — maka semua pertanyaan tadi tiba-tiba jadi bisa dijawab. Bukan karena aku punya akses data baru, tapi karena data lamanya akhirnya bisa dihitung.

Jadi kubangun. Namanya Pantau PLN Banjarbaru, dan sekarang hidup di pantaupln.warga.io.

Cara kerjanya begini: flyer diunggah, Claude membaca gambarnya dan menarik keluar informasi terstruktur, lalu hasilnya disimpan ke database dan langsung tampil di dashboard. Yang tadinya butuh zoom dan menyipitkan mata, sekarang bisa dicari dengan mengetik nama jalan. Yang tadinya cuma satu gambar sekali pakai, sekarang jadi baris data yang menumpuk jadi riwayat.

Dari riwayat itu muncul hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kelihatan: peringkat wilayah yang paling sering terdampak, pola durasi pemadaman, grafik yang bisa dilihat sekali pandang.

Tumpukan gambar berubah jadi ingatan kolektif.

Bagian yang tidak semulus itu

Kalau tulisan ini berhenti di sini, kesannya terlalu rapi. Jadi izinkan aku cerita bagian yang bikin pusing.

Geocoding di Indonesia itu susah. Aku pikir mengubah nama jalan jadi titik koordinat akan jadi bagian paling gampang. Ternyata itu bagian paling menyebalkan. Peta terbuka yang jadi andalan banyak orang punya cakupan yang sangat tipis untuk nama jalan di Banjarbaru. Banyak jalan yang benar-benar ada, dilewati orang tiap hari, tapi tidak dikenali sama sekali oleh mesin pencari lokasi.

Solusinya bertingkat: cari dulu di area sempit sekitar Banjarbaru, kalau gagal lebarkan ke tingkat provinsi, dan kalau masih gagal juga, minta AI mengestimasi posisinya. Hasil estimasi divalidasi jaraknya supaya tidak melenceng jauh dan yang penting, titik hasil estimasi diberi label "estimasi AI" secara terbuka di tampilan.

Ini keputusan desain yang aku pegang kuat: kalau sistemnya menebak, warga berhak tahu bahwa itu tebakan. Aku lebih memilih peta yang jujur soal ketidakpastiannya daripada peta yang kelihatan pasti tapi diam-diam salah.

Verifikasi awalnya sepi. Aku sempat menambahkan fitur supaya warga bisa mengonfirmasi apakah pemadaman benar terjadi di tempat mereka. Versi pertamanya nyaris tidak disentuh siapa pun. Fiturnya ada, tapi tidak ada yang merasa diajak.

Aku rombak: pertanyaannya dibikin besar dan jadi hal pertama yang dilihat, angka partisipasinya ditampilkan mencolok supaya orang tahu ada warga lain yang juga ikut, dan alurnya digabung sekali ikut verifikasi, sekalian bisa cerita dampaknya. Lahirlah #PadamKahDisini dan #SuaraWarga.

Pelajarannya klise tapi baru terasa nyata setelah dialami sendiri: orang tidak berpartisipasi karena tombolnya tersedia. Orang berpartisipasi karena merasa diajak, dan karena melihat orang lain sudah lebih dulu ikut.

Aku juga akhirnya menutup pengunggahan flyer untuk umum. Awalnya idealis siapa saja boleh kirim. Setelah dipikir ulang, satu flyer palsu atau salah baca bisa merusak kepercayaan pada semua data lainnya. Untuk platform yang seluruh nilainya bertumpu pada akurasi, itu pertaruhan yang terlalu mahal. Jadi unggahan dibatasi admin, sementara suara warga tetap terbuka lebar di sisi verifikasi dan laporan dampak.

Yang berikutnya

Pantau PLN masih terus jalan. Ada ringkasan dampak yang dihasilkan otomatis tiap hari, kolom komentar warga yang mulai hidup, dan daftar panjang hal yang masih ingin kuperbaiki.

Tapi lebih dari itu, proyek ini jadi semacam pembuktian kecil buat diriku sendiri bahwa satu orang, dengan alat yang sekarang tersedia buat siapa saja, bisa mengubah tumpukan gambar buram jadi sesuatu yang bisa dipakai satu kota.

Kalau kamu tinggal di Banjarbaru, coba buka pantaupln.warga.io lain kali lampu padam. Cari jalanmu. Ikut konfirmasi kalau memang benar padam di tempatmu. Setiap konfirmasi bikin datanya lebih kuat.

Dan kalau kamu punya keluhan serupa di kotamu sendiri sesuatu yang selama ini kamu terima begitu saja karena "ya memang begitu dari dulu" mungkin itu bukan hal yang harus diterima. Mungkin itu sesuatu yang bisa kamu bangun.

Riwayat

  1. Hayalan · 29 Jun 2026
  2. Realisasi · 14 Jul 2026